Salah satu aspek mendasar yang sekarang harus dikembangkan secara
mendasar adalah bagaimana manusia membangun relasi yang baik dengan
lingkungan alam. Di dalam konsepsi Islam dikenal ada konsep Hablun
minallah, hablun minannas dan hablun minal alam. Dua konsep yang pertama
dan kedua sudah sangat dikenal, yaitu menyambung tali hubungan dengan
Allah dan kedua menyambung tali hubungan
dengan sesama manusia. Akan tetapi konsep yang ketiga, menyambung tali
relasi dengan alam masih merupakan konsep baru yang memang perlu
ditingkatkan relevansinya bagi kehidupan manusia.
Memang dikenal ada yang disebut sebagai kesalehan ritual, yaitu
perilaku manusia yang selalu memiliki relasi dengan Tuhan melalui
serangkaian upacara yang dianggap penting, misalnya melaksanakan shalat,
zakat, puasa dan ibadah-ibadah lain yang dianggap sebagai bagian dari
relasi antara manusia dengan Tuhan. Dan kemudian juga manusia membangun
relasi dengan sesama manusia yang sesungguhnya merupakan kebutuhannya.
Akan tetapi manusia juga harus membangun relasi yang baik dengan alam
sebagai bagian dari kehidupan manusia yang memang berada di alam ini.
Terkait dengan hablun minallah, hablun minannas dan hablun minal
alam ini, maka didapatkan suatu proposisi bahwa ada kalanya orang sangat
baik dalam tampilan relasinya dengan Allah, sehingga seakan-akan tidak
celah kejelekannya di dalam bangunan relasi tersebut. Selain itu
bangunan relasi dengan sesama manusia juga sangat baik, sehingga secara
proposisional lalu bisa dinyatakan saleh ritual dan saleh social.
Akan tetapi terkadang juga ada yang lain, yaitu amalan di dalam
relasi dengan Tuhan sangat baik, akan tetapi relasi dengan sesama
manusia kurang baik bahkan jelek. Maka yang seperti ini disebut, saleh
ritual akan tetapi tidak saleh social. Shalatnya baik akan tetapi
relasinya dengan sesama manusia kurang baik. Performance shalatnya
bagus, akan tetapi dia kikir dalam menghadapi kaum mustadhafin. Demikian
seterusnya.
Jadi, pembicaraan kita masih berada di seputar saleh ritual dan saleh
social dan belum kepada persoalan saleh lingkungan. Melalui konsepsi
saleh lingkungan ini, sesungguhnya ada dimensi yang penting untuk
dikedepankan adalah bagaimana membangun relasi dengan lingkungan alam
yang ramah terhadap manusia karena keramahan manusia terhadapnya.
Kita dewasa ini sedang menghadapi tantangan lingkungan yang luar
biasa. Diantaranya adalah perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.
Alam yang kita huni tidak akan selamanya seperti ini. Tidak selamanya
terdapat tanaman yang hijau, daun pepohonan yang rindang, sungai yang
mengalirkan air yang jernih, sumber air yang melimpah, sumber daya alam
yang sangat banyak, air laut yang menghidupi dan menjadi sember ekonomi
dan sebagainya. Akan tetapi suatu saat akan menjadi sebaliknya. Alam
bisa menjadi kering kerontang, air yang menyusut, air yang terkena
polutan, sumber daya alam yang terkuras dan sebagainya.
Makanya, harus ada upaya agar alam yang disediakan oleh Allah ini
menjadi lestari dan bersahabat dengan manusia. Makanya ada dua cara yang
bias dianggap sebagai strategi ke depan menghadapi perubahan iklim dan
pelestarian lingkungan, yaitu melalui paradigm pencegahan.
Di dalam paradigm pencegahan maka yang diperlukan adalah melalukan
pembangunan berkelanjutan dan pemerintahan yang baik atau sustainable
development dan good governance. Di dalam kepentingan ini, maka harus
dikurangi atau ndihentikan sumber dan aktivitas cemaran, misalnya
produksi cemaran (pollutan) karbon/gas berlebihan, perusakan hutan
(deforestrasi), dan aktivitas kehidupan yang tidak ramah lingkungan.
Untuk mencapai hal ini, maka diperlukan komitmen stakeholder, yaitu
komitmen terhadap pelaksanaan pembangunan yang ramah lingkungan dan
perbaikan lingkungan dengan pengembangan industry, bahan bakar,
pertanian, perdagangan, gaya hidup nyang ramah laingkungan yang
mengedepankan tentang pelestarian lingkungan.
Melalui komitmen stakeholder tentang pelaksanaan pembangunan ramah
lingkungan dan perbaikan lingkungan maka akan didapatkan keberhasilan
pembangunan yang menyeluruh. Tidak hanya secara ekonomi sejahtera akan
tetapi juga lingkungannya menjadi serasi, selaras dan seimbang sebagai
implementasi hablun minal alam.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari
seberapa peningkatan pendapatan perkapita masyarakat, akan tetapi juga
bagaimana masyarakat mengelola lingkungan alamnya. Jadi memelihara dan
mengembangkan lingkungan yang tidak mencederainya, adalah tugas
kekhalifahan manusia yang juga utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar